ANALISA BREAK EVEN POINT

Posted: Juli 9, 2011 in Uncategorized

Analisa Break Event merupakan teknik analisa untuk mempelajari hubungan antara Biaya Tetap, Biaya Variabel, Keuntungan dan Volume aktivitas. Masalah Break Event baru akan muncul dalam perusahaan apabila perusahaan tersebut mempunyai Biaya Variabel dan Biaya Tetap. Suatu perusahaan dengan volume produksi tertentu dapat menderita kerugian dikarenakan penghasilan penjualannya hanya mampu menutup sebagian kecil biaya produksi (biaya tetap + biaya Variable).

Contribution Margin adalah selisih antara penghasilan penjualan dan biaya variabel, yang merupakan jumlah untuk menutup biaya tetap dan keuntungan. Perusahaan akan memperoleh keuntungan dari hasil penjualannya apabila Contribution Marginnya lebih besar dari Biaya Tetap, yang berarti total penghasilan penjualan lebih besar dari total biaya.

Break Event Point menyatakan volume penjualan dimana total penghasilan tepat sama besarnya dengan total biaya, sehingga perusahaan tidak memperoleh keuntungan dan juga tidak menderita kerugian.

Asumsi dasar dalam analisa breakevent, antara lain :

  1. Biaya dapat diklasifikasikan kedalam komponen biaya variabel dan biaya tetap.
  2. Total biaya variabel berubah secara proporsional dengan volume produksi atau penjualan, sedangkan total biaya variabel per unit tetap konstan.
  3. Total biaya tetap tidak mengalami perubahan, meskipun ada perubahan volume produksi atau penjualan, sedangkan biaya tetap per unit akan berubah karena adanya perubahan volume kegiatan.
  4. Harga jual per unit tidak akan berubah selama periode melakukan analisa.
  5. Perusahaan hanya membuat dan menjual satu jenis produk. Jika membuat dan menjual lebih dari satu jenis produk, maka perbandingan penghasilan penjualan antara masing-masing produk (disebut sebagai Sales Mix) akan tetap konstan.
  6. Kapasitas produksi pabrik relatif konstan.
  7. Harga faktor produksi relatif konstan.
  8. Efisiensi produksi tidak berubah.
  9. Perubahan pada persediaan awal dan akhir jumlahnya tidak berarti.
  10. Volume merupakan faktor satu-satunya yang mempengaruhi biaya.

Penentuan Tingkat Break Even

  1. Untuk dapat menentukan tingkat break even, maka biaya yang terjadi harus dapat dipisah menjadi biaya tetap dan biaya variabel.
  2. Biaya tetap (Fixed cost) adalah biaya yang jumlah totalnya tetap dalam range output tertentu. Contoh biaya bunga, sewa, depresiasi.
  3. Biaya variabel (Variable cost) adalah biaya yang jumlah totalnya akan naik turun (berubah-ubah) sesuai dengan hasil produksi atau volume kegiatan. Contoh biaya bahan baku, tenaga kerja langsung.

Breakevent Point dapat ditentukan dengan beberapa cara, yaitu:

  1. Pendekatan grafik :

Breakevent Point terjadi pada titik persilangan antara garis penghasilan penjualan dan garis total biaya.

Secara sederhana dapat dilihat dari grafik dibawah ini :

  1. Metode Trial and Error
  2. Pendekatan matematis :

Rumus matematika untuk menentukan BEP adalah :

Total Biaya Tetap

BEP (unit)            =

Harga jual per unit – Biaya Variabel/unit

Total Biaya Tetap

BEP (Rp)  =

1    –   Total Biaya Variabel

Total hasil penjualan

Faktor – factor yang mempengaruhi BEP :

Faktor langsung:

  1. Biaya Produksi.
  2. Harga.

Faktor Tidak Langsung :

  1. Jumlah Produksi.

Jumlah produksi akan mempengaruhi biaya variable.

 

Margin of safety.

Margin of Safety adalah batas keamanan yang menyatakan sampai seberapa jauh volume penjualan yang dianggarkan boleh turun agar perusahaan tidak menderita rugi atau dengan kata lain, batas maksimum penurunan volume penjualan yang dianggarkan, yang tidak mengakibatkan kerugian.

Mencari Margin of safety :

sales budget/rencana penjualan          = 50 juta

penjualan per BEP            = 37,5 juta

= 133,33 %

Hal ini berarti bahwa tingkat penjualan perusahaan tersebut tidak boleh turun lebih dari 33,33 % dari penjualan break even.

33,33 % X Rp 37 500 000= Rp 12.500.000,-

Realisasi penjualan tidak boleh turun lebih dari Rp. 12.500.000,- dari penjualan yang direncanakan.

—  Atau bisa juga dihitung :

(sales budget-sales BE)/sales budget

(Rp 50 juta- Rp 37,50 juta)/Rp 50 juta= 25 %

Artinya penjualan tidak boleh turun lebih dari 25 % penjualan yang direncanakan.

25 % X Rp 50 juta = Rp 12 500 000,-

Realisasi penjualan tidak boleh turun lebih dari Rp. 12.500.000,- dari penjualan yang direncanakan.

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s